frames

PASTORS’ CONFERENCE 2018

“PASTORING IN A CHANGING CULTURE”

29-30 Oktober 2018

Kampus STT Amanat Agung

DESKRIPSI UMUM

Pelayanan gerejawi, khususnya pelayanan penggembalaan, terjadi di tengah-tengah dunia dan kebudayaan yang terus berubah. Lebih-lebih pada zaman ini, perubahan-perubahan terjadi dengan sangat cepat, bahkan drastis. Yang sangat kentara, misalnya, perkembangan teknologi komunikasi yang begitu cepat, revolusi seks yang begitu mengagetkan, pola hidup yang semakin konsumtif melalui perkembangan budaya belanja yang sangat cepat, dan pelbagai perubahan zaman yang mesti dihadapi oleh hamba-hamba Tuhan. Kadang-kadang hamba Tuhan merasa keteteran, terengah-engah mengejar zaman, kadang-kadang ada yang begitu nyaman dengan semua yang ditawarkan zaman, dan kadang-kadang yang sangat takut dan kaku menghadapi zaman yang terus berubah. Apa pun sikap kita, mau tidak mau kita harus menghadapi kenyataan bahwa orang-orang yang kita layani berada di tengah-tengah pusaran perubahan zaman dan perubahan budaya yang sangat cepat. Bagaimana hamba Tuhan harus menghadapi perubahan-perubahan itu? Bagaimana perubahan-perubahan itu mengubah pola pelayanan dan pola penggembalaan kita, misalnya dalam pelayanan keluarga, pelayanan kaum muda, dan pelayanan misi? Bagaimana hamba Tuhan menangkap kehendak Allah di tengah zaman ini?

 

Pastors’ Conference kali ini secara spesifik akan berfokus kepada memperlengkapi hamba-hamba Tuhan untuk menghadapi perubahan-perubahan dunia dan budaya, sehingga sigap dan siap melayanai Tuhan secara relevan dan kontekstual.

 

JADWAL ACARA PASTORS’ CONFERENCE 2018

08.00-08.15   DAFTAR ULANG

SENIN, 29 OKTOBER 2018

08.15-10.00

SESI 1 (PLENARY)MAPPING AND READING OUR CULTURE 

                               (PDT. ANDREAS HIMAWAN)
10.00-10.30 TEA/COFFEE BREAK
10.30-12.00

SESI 2: BREAKOUT SESSION (PILIH SALAH SATU)

            A. “ALONE TOGETHER”: PASTORING IN A (DIS)CONNECTED WORLD 

                  (HENDRO LIM)

            B. “BORN THIS WAY”: PASTORING IN AN OVER-SEXUALIZED WORLD 

                 (IRWAN HIDAJAT)

            C. “I SHOP THEREFORE I AM”: PASTORING IN A COMMERCIALIZED WORLD 

                 (FANDY TANUJAYA)

12.00-13.00 MAKAN SIANG
13.00-14.30

SESI 3: FOCUS GROUP DISCUSSION

            A. “ALONE TOGETHER” (HENDRO LIM)

            B. “BORN THIS WAY” (IRWAN HIDAJAT)

            C. “I SHOP THEREFORE I AM” (FANDY TANUJAYA)

14.30-15.00 TEA/COFFEE BREAK
15.00-16.30

SESI 4 (PLENARY)BEING A CHURCH IN A CHANGING WORLD 

                                 (PDT. JEFFREY SIAUW)

SELASA, 30 OKTOBER 2018

08.30-10.00

SESI 5 (PLENARY): PASTORS IN A CHANGING CULTURE 

                                (CASTHELIA KARTIKA)

10.00-10.30 TEA/COFFEE BREAK
10.30-12.00

SESI 6: BREAKOUT SESSION (PILIH SALAH SATU)

            A. FAMILY MINISTRY IN A BROKEN WORLD 

                (ESTHER DANG)

            B. LEADING CHANGE IN YOUTH MINISTRY 

                (ASTRI SINAGA)

            C. MISSIONAL CHURCH IN A CHANGING WORLD 

                (RIA PASARIBU)

12.00-13.00 MAKAN SIANG
13.00-14.30

SESI 7 (PLENARY)PREACHING TO THE NEW GENERATION 

                                (PDT. YOHANES ADRIE HARTOPO)

14.30-16.00 SESI 8: IBADAH PENUTUP
16.00-16.30 TEA/COFFEE TIME

 

DESKRIPSI PLENARY SESSION

 

MAPPING AND READING OUR CULTURE

Gereja dan orang-orang Kristen selalu hidup di dalam konteks budaya, filsafat dan keagamaan tertentu. Pada zaman dulu konteks seperti ini masih cukup homogen, tetapi zaman kini, konteks kehidupan kita semakin beragam dan majemuk, seolah-olah tak terpetakan. Filsafat, kebudayaan, gaya hidup, bahkan agama berubah dengan cepat dan semakin bervariasi. Berada di tengah-tengah kondisi seperti ini bisa sangat membingungkan. Sesi ini akan melengkapi kita untuk memahami peta budaya dan filsafat zaman kini, dan bagaimana seharusnya sikap teologis dan pastoral kita terhadap keanekaragaman budaya dan konteks.

 

BEING A CHURCH IN A CHANGING WORLD

Tuhan Yesus mengatakan bahwa umat-Nya bukanlah dari dunia, tetapi misi umat-Nya ada di tengah-tengah dunia, dan keberadaannya di dunia adalah karena suatu pengutusan dari Allah Tritunggal. Memahami dan menghidupkan identitas Gereja yang sesuai dengan isi hati Allah selalu merupakan agenda utama pelayanan Gerejawi. Tetapi di tengah-tengah perubahan zaman yang sedemikian drastis, masihkah identitas Gereja menjadi sesuatu yang relevan? Bagaimana Gereja dapat menjadi counter-culture terhadap kebudayaan yang kian sekuler dan hedonis? Bagaimana Gereja masih tetap dapat menjadi Gereja di tengah-tengah perubahan budaya yang drastis ini?

 

PASTORS IN A CHANGING CULTURE

Hamba Tuhan sering diperhadapkan dengan dilema antara menjadi relevan atau mempertahankan identitas dan tradisi. Dalam praksis pastoral, kadang-kadang tanpa sadar hamba Tuhan dapat menjadi hamba dari zaman dengan segala hasrat untuk memenuhi tuntutan zaman. Adakalanya juga dapat terjadi hamba Tuhan mengabaikan perubahan zaman, sehingga dianggap fosil peninggalan masa lalu. Bagaimana kita hamba Tuhan dapat seperti Daud yang telah “served the purpose of God in his own generation” (Kis. 13:36)?

 

PREACHING TO THE NEW GENERATION

Salah satu tanda Gereja sejati adalah Firman Tuhan diberitakan secara benar dan setia. Khotbah memang menjadi salah menu yang paling penting bagi jemaat untuk mengonsumsi Firman Tuhan. Masalahnya adalah bahwa jemaat yang duduk di kursi Gereja terdiri dari orang-orang yang beraneka generasi dan beraneka budaya, khususnya dengan munculnya generasi milenial dalam jumlah yang sangat besar. Bagaimana kita dapat berkotbah yang relevan untuk generasi baru ini dan bahkan untuk seluruh generasi yang memiliki cara pandang dan tuntutan berbeda, tetapi sekaligus tetap setia kepada kebenaran Firman Tuhan? Apakah sesungguhnya “kotbah yang relevan” itu?

 

DESKRIPSI BREAKOUT SESSION

 

“ALONE TOGETHER”: PASTORING IN A (DIS)CONNECTED WORLD

Teknologi komunikasi menjanjikan persambungan bagi manusia yang terpisah jarak spasial, tetapi kenyataannya manusia justru semakin terputus hubungan personal dengan sesamanya. Masing-masing asyik dengan gadget dan dengan dunia mayanya sendiri. Yang maya dianggap kenyataan yang paling real, yang nyata di depan mata seringkali justru dianggap semu. Allah dan spiritualitas pun terusir oleh kesemuan realitas maya. Manusia menjadi semakin berjarak, dan hidup dalam keterasingan dan kesepian. Bagaimana melayani generasi yang kecanduan smartphone, games, dan medsos? Bagaimana mengembalikan praksis persekutuan di tengah budaya maya nan semu ini?

 

“BORN THIS WAY”: PASTORING IN AN OVER-SEXUALIZED WORLD

Seks adalah karunia Tuhan, tetapi revolusi seks bukan saja menjadikan seks sebagai hiburan yang dipertontonkan lewat pelbagai media, tetapi juga telah menghasilkan pelbagai praktik seks menyimpang yang justru semakin dapat diterima oleh masyarakat. Orang-orang Kristen tidak imun terhadap fenomena ini. Hamba Tuhan pada satu pihak harus berani melawan perubahan budaya yang sangat menggoda ini, tetapi pada pihak lain harus menghadirkan pelayanan yang menjawab kebutuhan generasi ini dan dapat membentuk generasi yang berani bangga pada pada kesucian seksual. Bagaimana melayani di dalam dunia yang mengedepankan kebebasan dalam ekspresi seksual?

 

“I SHOP THEREFORE I AM”: PASTORING IN A COMMERCIALIZED WORLD

Kota-kota besar dan kecil diserbu dengan mall dan pusat belanja, barang-barang komersial ditawarkan bukan lagi untuk memenuhi kebutuhan tetapi keinginan manusia yang tak terbatas. Belanja online semakin semarak. Manusia menjadi sangat konsumtif. Kepemilikan barang-barang mewah menjadi penanda harga diri, bahkan identitas diri. Apakah orang-orang Kristen masih dapat belajar hidup bersahaja? Bagaimana menghadirkan spiritualitas Kristen yang memberikan kepuasan rohaniah dan batiniah dan yang dapat menjawab kecanduan manusia pada materi?

 

FAMILY MINISTRY IN A BROKEN WORLD

Korban pertama dari perubahan budaya yang begitu drastis adalah rusaknya kehidupan keluarga. Pelayanan pastoral, jika ingin mendatangkan dampak dan perubahan, harus sangat berfokus pada pelayanan keluarga. Menyelamatkan keluarga-keluarga Kristen di antara jemaat kita adalah salah satu prioritas utama pelayanan hamba Tuhan. Masalahnya, hamba Tuhan bukan saja kurang diperlengkapi dalam pelayanan keluarga, bahkan tidak jarang, keluarga hamba Tuhan sendiri pun penuh dengan keretakan dan kekacauan. Sesi ini berfokus pada memperlengkapi hamba-hamba Tuhan agar memiliki passion dan keterampilan untuk memulihkan dan menyelamatkan keluarga-keluarga Kristen, termasuk keluarga hamba Tuhan itu sendiri.

 

LEADING CHANGE IN YOUTH MINISTRY

Menurut pelbagai survey, kaum muda meninggalkan gereja, dan gereja kehilangan kaum muda. Pengalaman pastoral di gereja-gereja Indonesia juga menceritakan hal yang sama. Dunia dan budaya zaman ini memang menarik kaum muda untuk kian menjauh dari gereja. Seluruh budaya dan teknologi zaman ini menyasar kaum muda dan memberi mereka ruang yang sangat nyaman untuk sepenuh-penuhnya menghirup udara zaman ini dengan segala kebebasan dan kreativitasnya. Gereja ditinggalkan kaum muda. Gereja yang penuh dengan kaum muda pun tidak menghasilkan taruna-taruna Kristus yang berani melawan budaya zaman. Di tengah-tengah tantangan yang berat ini, bagaimana hamba Tuhan memastikan terjadinya transformasi dalam pelayanannya pada kaum muda?

 

MISSIONAL CHURCH IN A CHANGING WORLD

Apa pun dan bagaimana pun perubahan zaman dan budaya, natur dan misi gereja tetaplah sama. Gereja harus mengubah zaman dengan Injil Kristus. Gereja harus gesit dan militan, menjadi garam, terang, dan ragi. Pemberitaan Injil ke ujung dunia adalah Amanat Agung yang selalu relevan dan kontekstual. Namun ironisnya, gereja dan misi gereja semakin dianggap tidak relevan. Sekulerisme, pluralisme, dan relativisme semakin melumpuhkan misi gereja. Pelayanan pastoral belum sungguh-sungguh berhasil bila belum menghasilkan utusan-utusan Kristus yang militan dan gigih di dalam membawakan Injil ke dalam dunia yang sedang berubah ini, namun bagaimana mengerjakannya dengan lebih efektif?