Theological Colloquium 2017

Posted 1 year ago

Sebagai bagian dari rangkaian acara dalam merayakan dwidasawarsa STT Amanat Agung, pada hari Senin dan Selasa, 30-31 Oktober 2017 telah terselenggara acara Theological Colloquium dengan tema Are We Really Saved by Faith Alone? Critical Assessment on the Doctrine of Sola Fide from New Testament Perspectives. Forum akademik yang diadakan di kampus STT Amanat Agung selama dua hari ini diikuti oleh 60 orang rohaniwan gereja dan akademisi dari STT sahabat, serta kurang lebih 120 orang dosen dan mahasiswa STT Amanat Agung.

 

Tema ini sengaja diangkat sebagai bentuk perayaan akademik atas ajaran reformasi Sola Fide (“Keselamatan hanya melalui Iman kepada Kristus”), khususnya bertepatan dengan peringatan 500 tahun Reformasi Protestan (31 Oktober 1517 – 31 Oktober 2017). Hadir sebagai pemakalah di dalam acara ini tujuh orangahli Perjanjian Baru di Indonesia dari berbagai latar belakang tradisi (termasuk Katolik), yang mengupas tema ini dari berbagai sudut pandang. Secara umum, acara ini dimulai dengan dua sesi kuliah umum (disertai tanya-jawab), lima sesi penyampaian makalah (dengan tanggapan dan tanya-jawab), dan diakhiri dengan sesi rangkuman dan refleksi.

 

Pada hari pertama, acara dibuka oleh Ketua STT Amanat Agung, Pdt. Andreas Himawan, D.Th. dan dilanjutkan dengan dua kuliah umum. Yohanes Adrie Hartopo, Ph.D. (STTAA) menyampaikan ajaran reformasi tentang Sola Fide dari Martin Luther dan John Calvin, kemudian dilanjutkan oleh Prof. Martin Harun, O.F.M. yang memaparkan sikap gereja Katolik dewasa ini (pasca Konsili Vatikan II) terhadap doktrin pembenaran. Pada siang hari, terdapat dua sesi penyampaian makalah. Matthew Malcolm, Ph.D. (UPH), menyampaikan respons kritisnya terhadap sebuah buku baru tentang konsep iman, “Salvation by Allegiance Alone,” yang ditulis oleh Matthew W. Bates. Kemudian, Asigor P. Sitanggang (STFT Jakarta) mengulas secara mendalam peran iman di dalam Injil Markus, terutama dari perspektif Analisis Redaksional.

 

Pada hari kedua terdapat tiga presentasi makalah. Pada dua sesi pagi, Dany Christoper, Ph.D. (Gepembri Kemurnian) mengulas konsep iman di dalam Injil Lukas, Armand Barus Ph.D. (STTAA) memaparkan konsep iman di dalam Injil Yohanes. Pada sesi terakhir di siang hari, Surif, Ph.D. (STTAA) memaparkan dinamika hubungan antara iman dan perbuatan di dalam Surat Filipi. Akhirnya, Theological Coloquiumini disimpulkan dalam sebuah sesi rangkuman dan refleksi yang disampaikan oleh Yohanes Adrie Hartopo, Ph.D. Di satu sisi, ajaran Sola Fide diyakini berdasar dan berakar pada Alkitab. Di sisi lain, ada berbagai dimensi dari iman, pembenaran Allah, dan keselamatan di dalam Alkitab yang perlu terus dicermati untuk memperkaya pemahaman akan keselamatan melalui iman di dalam Kristus.Di samping itu, ada isu-isu di seputar doktrin Sola Fide ini yang masih bisa dieksplorasi dan didiskusikan bersama, baik dari perspektif biblis, teologis, maupun historis.

 

Di sesi penutup, Pdt. Andreas Himawan, D.Th. mengajak setiap peserta untuk tetap berpegang teguh pada doktrin-doktrin yang esensial dalam Kekristenan, seperti Sola Fide, bahwa kita diselamatkan sepenuhnya melalui iman kepada karya Kristus, bukan oleh perbuatan baik kita. Di sisi lain, beliau mengingatkan bahwa perbedaan pandangan tentang dimensi-dimensi tertentu dari doktrin ini merupakan hal yang wajar. Karena itulah, percakapan-percakapan akademis seperti yang terjadi dalam Theological Qolloquium ini perlu terus dilanjutkan, supaya orang-orang percaya dari berbagai tradisi Kristen dapat saling menajamkan pemahaman dan iman mereka. Sebuah adagium klasik berkata, “In essentials, unity. In non-essentials, liberty. In all things, charity.”  Kiranya spirit seperti ini dapat terus lestari di tengah kehidupan iman orang-orang percaya dan gereja-gereja di Indonesia.